08 November 2019 10:42:59
Ditulis oleh Admin

“Codong”, Si Emas Hijau di ujung Desaku

http://binangun-singgahan.desa.id – “Codong”, sekilas mungkin tidak banyak yang tahu. Namun di ujung barat Desa Binangun yang tepatnya di Dusun Punten, codong tersebut sangat akrab didengar, terlebih dimusim ketigo (kemarau-red) yang baru saja terlewati dengan masa musim yang lebih agak panjang ditahun 2019 ini. Karena sebagian besar warga Punten sedang musim tanam “codong” diwaktu kemarau atau musim tanam ketiga.

Codong adalah jenis tembakau jawa yang biasa ditanam oleh warga Dusun Punten diwaktu kemarau setelah dua musim tanam sebelumnya dilewati masa tanam padi, palawija ataupun melon dan lainnya. Meski musim kemarau yang terlalu panjang biasanya sangat menyulitkan para petani pada umumnya, namun bagi petani tembakau codong adalah masa yang paling bagus dan menguntungkan. Tembakau codong justru tumbuh subur dan cocok pada lahan dan cuaca disaat kemarau dengan teknik penanaman dan perawatan yang sudah lihai dilakukan oleh warga Dusun Punten.

                       

Pertama adalah menyiapkan lahan bedengan yang kemudian ditaburi dengan rindik (biji tembakau). Setelah itu ditutup dengan jerami dan dilakukan penyiraman pada setiap pagi hari sampai bedengan siap dicabut untuk dipindah tanam ke lahan sawah, dengan usia bedengan kira-kira umur 40 hari. Bedengan yang sudah dicabut dan siap tanam dipindah dilokasi sawah penanaman dengan ukuran jarak tanam 60x80 cm. setelah ditanam (dalam bahasa local disebut nonjo) usia 1 hari harus disiram, atau biasa disebut matreni. Yakni dengan tujuan agar tanah yang ada disela-sela akar menjadi basah dan mampu merangsang pertumbuhan akar baru. Namun sebelumnya, mayoritas petani tembakau codong membuat lumpur untuk menancapkan batang bibit tembakau ke lubang taju (mbecek dalam bahasa local) dengan maksud agar akar tembakau yang baru dipindah tanam menjadi awet adem sebelum dipatreni. Tembakau Codong pada tahapan awal penanaman tidak membutuhkan air yang terlalu banyak, namun harus disiram dengan jadwal yang berkala dan teratur yaitu 3 kali dalam seminggu. Untuk mempercepat tumbuhnya akar baru, setelah usia 1 minggu dari nonjo tembakau mulai diberi pupuk awal. Sekitar 50 kg untuk luas tanam 1 hektar. Pupuk dilarutkan dalam air. Setelah dipupuk paginya disiram air tanpa pupuk atau biasa disebut dengan istilah ngluntur. Proses tersebut dilakukan setiap 1 minggu sekali atau paling lama 10 hari sekali dan terus dilakukan secara berkala sampai codong berumur kurang lebih 60 hari.

Pada tahapan awal sampai usia 60 hari jika terdapat gulma maka harus dilakukan penyiangan, karena gulma tersebut dapat memperlambat dan mengganggu pertumbuhan codong. Setelah pemupukan terakhir pada usia 60 hari, tanaman tembakau codong ditunggu sampai muncul bunga pada daun paling atas atau disebut jonggol. Setelah semua tumbuh bunga maka harus dipetik (dipunggel) bunga tersebut agar daun tembakau codong tebal dan cepat tua. Setelah codong umur 75/80 hari maka daun paling bawah sudah siap untuk dipetik. Setiap tingkatan daun pada batang codong mempunyai bentuk yang berbeda dan khas yang para petani tembakau codong sudah sangat hafal dengan tekstur daun tersebut.

Musim kemarau inilah masa yang sangat cocok bertanam tembakau Codong Si Emas Hijau tersebut. Jika pada umumya kemarau panjang menjadi hal yang sering menyulitkan petani pada umumnya, namun bagi sebagian besar petani tembakau codong adalah justru musim tanam raya. Karena sebagian besar penduduk mempunyai penghasilan lebih dan juga banyak menciptakan lapangan kerja bagi warga lain yang tidak punya lahan tanam sendiri dengan menjadi buruh harian ataupun yang lainnya. Menurut Saeful Bahri pada saat diwawancarai menerangkan bahwa musim codong saat ini lumayan sangat menguntungkan untuk perekonomian warga setempat. Tembakau Codong si emas hijau tersebut menjadi sumber penghasilan warga dimusim kemarau ini. Untuk daun paling bawah laku Rp 1000 per kg, urutan daun ke 2 laku Rp 2000 per kg, daun ke 3 laku Rp 3000, daun ke 4 laku Rp 3500, dan daun terakhir (potolan) laku diharga Rp 4000 per kg nya. Saeful Bahri merupakan salah satu petani muda di Dusun Punten, namun cukup telaten didalam menanam codong. Terbukti dengan antusiasnya saat diwawancarai dan sangat bersemangat dalam menjelaskan banyak hal tentang codong mulai dari awal penyiapan lahan sampai habis masa panen.”Disaat kemarau yang terik matahari begitu menyengat dipermukaan lahan ketika kami merawat codong, namun sebagian besar dari kami tetap bersemangat dan tak menghiraukan panas demi hasil codong yang dapat menjadi sumber penghasilan dimusim ketigo (kemarau-red) ini”. Imbuhnya.

Pengalaman memberi pelajaran akan banyak hal. Penerapan bersama dengan pengetahuan seperti eksperimen berkelanjutan yang menantang. Semangat dan motivasi untuk maju menjadi bahan bakar untuk semua itu. (RE/BIN)

 

 

 



image
Gambar Tambahan 1 Lihat Gambar
image
Gambar Tambahan 2 Lihat Gambar
image
Gambar Tambahan 3 Lihat Gambar
Kategori

Bagikan :

comments powered by Disqus